SETIAP aktivitas tiada yang tidak
membuahkan hasil. Itulah kata para ahli hikmah. Begitu halnya dengan
aktivitas rohani, setiap olah rohani tentu membekaskan sesuatu bagi
pengamalnya. Tetapi hasil itu kadarnya tergantung dari factor pendorong
yang amat kompleks.
Ibarat alat tulis, setiap goresan tentu meninggalkan bekas. Tetapi alat
tulis yang dipegang oleh orang yang ahli --melukis umpamanya—hasilnya
tentu berbeda dengan hasil goresan orang awam. Begitu halnya, suatu
amalan akan menghasilkan yang berbeda, tergantung dari siapa yang
mengamalkannya.
Ayat kursi yang diamalkan oleh orang yang saleh tentu hasilnya berbeda
ketika ayat itu diamalkan oleh orang awam. Jadi, yang menentukan itu
bukan jenis amalannya, tetapi siapa yang “dibalik” amalan itu. Dalam
kehidupan sehari hari manusia pun melihat adanya perbedaan – perbedaan
yang dilakukan satu orang dengan orang lain, walau menggunakan alat yang
sama.
Si A bisa menorehkan tanda tangan (saja) hasilnya sudah bisa untuk
membeli mobil, si B menorehkan ribuan tanda tangan tetapi hanya
mendapatkan sekadar uang lelah, bahkan si C tidak mendapatkan apa –
apa. Mengapa bisa demikian ?.
Jawabnya adalah soal pangkat. Semakin tinggi pangkat seseorang semakin
banyak yang mampu dilakukannya. Begitu halnya di dalam berdoa atau
beramal yang berkaitan dengan suprantaural (gaib) pangkat dalam
kerohanian menentukan hasil yang hendak diraihnya.
Artinya, semakin tinggi tingkat spiritual Anda semakin banyak hal – hal
yang mampu dilakukan. Karena itu dua orang yang menghadapi problem yang
sama ---jenis maupun bobotnya--- yang seorang cukup membaca ayat kursi
sebanyak 117 kali dan problemnya sudah berhasil, sedangkan orang lain
baru berhasil setelah menyelesaikan hitungan 313 kali. Bahkan boleh
jadi, ada orang lain yang sudah mampu menyelesaikan problemnya hanya
dengan tiga atau tujuh kali ayat kursi.
Bagaimana meningkatkan pangkat kerohanian itu ? caranya adalah berupaya
meningkatkan ketakwaan yaitu menjalankan perintah dan mencegah apa pun
yang dilarangNYA. Karena itu banyak kelompok oleh rohani yang
mencanangkan rambu rambu kepada pengikutnya, seperti anjuran untuk
memperbanyak ibadah---sunnah disamping yang wajib---.
Upaya menghindari dari dosa dosa besar serta menambah intensitas
pendekatan itu secara tidak langsung akan menghantarkan manusia pada
kelas spiritual yang makin tinggi. Dari kegiatan riyadhah itu memiliki
bias pada perubahan hati---sebuah organ manusia yang menentukan apakah
manusia itu menjadi baik atau buruk---karena dengan gerak hati pula
seluruh anggota badan yang lain menjadi bergerak dan bertindak.
Wirid atau mengamalkan amalan ritual yang dilakukan secara rutin dna
benar serta diikuti dengan tata laku yang menunjangnya adalah
memancarkan cahaya –cahaya halus pada hati. Semakin banyak cahaya itu
makin banyak pula cahaya yang meneranginya.
Seorang guru hikmah berkata bahwa dalam hati manusia itu terdapat dua
wilayah yang satu dengan yang lain saling bertempur untuk menguasai.
“Wilayah” yang dimaksud itu adalah kekuasaaan setan yang disebut Khotir
Syaithoni, dan wilayahnya malaikat yang disebut Khotir Malaki.
Seseorang yang hatinya lebih didominasi khotir syaithoni memiliki
kecenderungan untuk selalu berbuat hal hal yang buruk, sedangkan hati
yang penuh dengan khotir malaki mempengaruhi manusianya untuk selalu
berbuat yang baik baik.
Wirid itu dimaksudkan untuk menyuplai hati dengan cahaya – cahaya
positif (Khotir Malaki). Sehingga dengan dominannya khotir malaki itu,
kekuasaan setan makin terdesak atau menipis, dan hati yang terbebas
dari khotir syaithoni ini adalah hati yang peka terhadap cahaya cahaya
halus, atau dalam istilah sederhananya disebut hati yang memiliki
kekuatan batin.
Hati yang demikian itu tidak hanya mempengaruhi sikap positif pada
perilaku manusianya. Tetapi jugamenjadi sumber inspiriasi dalam karya
karya teknologi batin. Dan menjadi modal paling besar seseorang yang
ingin membangkitkan kemampuan alam bawah sadarnya. Bahkan terbebasnya
hati dari khotir syaithoni menyebabkan manusia itu memiliki kemampuan
melihat alam malakut (alam gaib) sebagaimana tersurat pada sabdi
Rasullah SAW.
“Andaikan setan – setan itu tidak mengerubungi hati anak anak Adam.
Niscaya mereka dapat melihat Alam Malakut yang ada di langit. (HR.
Ahmad)
Karena itulah, Wirid atau bentuk – bentuk riyadhoh lain ---sepanjang
yang terkait dengan ibadah---memiliki fungsi pokok menyuplai pancaran
pada hati. Sedangkan dari aspek lain, aktifitas itu memiliki fungsi
samingan di antaranya :
- Menabung energi gaib.
- Bentuk olah pernapasan dan konsentrasi.
- Melatih istikomahnya hati.
- Memprogram batin, memvisualisasikan kehendak.
- Dll.
Percayakah Anda bahwa wirid itu bisa menabung kekuatan ? Dalam sebuah
hadis Qudsy Allah berfirman banya mengingat Allah dikala engkau suka
(tidak ada bahaya) menyebabkan Allah akan mengingatmu dikala susah.
ARtinya, aktivitas mengingat Allah ---melalui wirid atau
zikir---menyebabkan Allah akan mengingat pengamal zikir/ wirid itu di
kala sudah (bahaya).
Itu pula yang membuat keyakinan para ahli hikmah bahwa riyadhoh juga
sebuah upaya menyimpan energi. Sedangkan pada sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Hakim : Tidak sesuatu yang paling mulia dalam
pandangan Allah, selain berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan
lapang. Terbukti orang – orng yang rajin mengamalkan wirid wirid
tertentu, semakin pada intensitasnya, makin sering ia mengalami hal hal
gaib yang secara nalar hal itu mustahil mampu dilakukannya.
Selain itu, wirid juga diyakini merupakan bentuk dari latihna
konsentrasi dan olah nafas, tetapi hal ini sering tidak dimengerti oleh
pengamalnya. Dan sebagaimana kita ketahui, jauh sebelum ilmu pernafasan
atau tenaga dalam dikenal banyak orang, metode ilmu wirid sudah
menerapkan dasar dasar dari olah pernafasan dan konsentrasi itu.
Itulah sebabnya, mengapa banyak ahli wirid kemudian memiliki kemampuan
adi kodrati baik yang berkaitan dengan kewaskitaan (tembus pandang)
kanuragan (kekuatan fisik) dan lain lain. Dan penyelidikan ilmu modern
meyakini adanya efek dari aktivits olah nafas ini.
Hikmah dari wirid, menurut para ahli ilmu batiniah---selain yang sudah
tersebut di atas---adalah melatih hati bersifat istiqomah, yaitu
mempertahankan amalan baik dari rasa bosan. Sehingga, menurut para
hukama kelebihan yang dimiliki para ahli wirid itu justru karena karamah
yang timbul dari istiqomah. Sehingga muncullah pepatah : Al Istiqomah
khoirul min ali karomah yang artinya Istiqomah itu lebih mulia dari
seribu karomah (kemuliaan).
Hikmah lain dari ketekuknan wirid adalah terpogramnya hati kepada salah
satu tujuan. Kesimpulannya, wirid adalah memprogram kehendak batin. Dan
geraknya hati itu juga bagian dari kehendak (persangkaan) dan doa
manusia. Karena itu wirid merupakan sarana untuk meraih sesuatu yang
terkandung dalam hati. Ketika seseorang berkehendak sesuatu, maka ucapan
dari mulut hanyalah sebuah sarana. Intinya justru pada hati itu.
Karena itu pula, dari jenis amalan wirid yang sama tidak harus
menghasilkan hikmah/ manfaat yang sama.
Seperti wirid ayat kursi ada yang meyakini mampu mendatangkan hajat yang
berkaitan dengan rezeki, tetapi pada pihak lain ada yang meyakini
untuk menolak niat jahat, untuk bela diri atau benteng gaib suatu
lokasi agar terhindar dari tangan jahil.
Mengapa bisa demikian ? Bukankah amalannya terdiri dari ayat yang sama ?
Tentu, karena yang menentukan itu tidak semata mata ayatnya, tetapi
kehendak hati seseorang ketika mengamalkan ayat itu ditujukan untuk
tujuan yang bagaimana.
Karena keyakinan bahwa wirid itu tergantung program kehendak
pengamalnya, lalu muncullah ilmu ilmu yang mengklasifikasikan hikmah
dari amalan itu. Muncul pula ahli yang diyakini masyarakat mampu
memberikan petunjuk cara cara pengamalan, dan informasi itu kemudian
dijadikan pedoman yang menimbulkan keyakinan hati.
Dengan demikian, dalam aktivitas wirid itu seluruh aspek pengolahan
batin tercakup seluruhnya. Mulai dari aspek doa, istikomah, olah
pernapasan dan konsentrasi dan pengerahan visualisasi batin menuju pada
satu titik tujuan.
Tampilkan postingan dengan label keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keagamaan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 November 2012
Rabu, 29 Februari 2012
HITAM DIDAHI PERLU DIWASPADAI
مُحَمَّدٌ
رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ
رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا
مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ
السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang
yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi
berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).DOSA BESAR
Tidaklah diragukan bahwa dosa itu ada dua macam, dosa besar dan dosa kecil.
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang
dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia
(surga)” (QS an Nisa’:31).SUNNAH NABI YANG DITINGGALKAN
Sunnah (baca:hadits) itu termasuk wahyu. Allah berfirman,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)
Yang artinya, “Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An-Najm:3-4).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hasan bin ‘Athiyyah, seorang tabiin mengatakan, “Jibril itu turun untuk menemui Nabi dengan membawa sunnah sebagaimana dia turun dengan membawa al Qur’an”.
Allah juga menjamin untuk menjaga sunnah sebagaimana menjaga al Qur’an. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz dzikr dan kamilah yang menjaganya” (QS al Hijr:9). Yang dimaksud dengan adz dzikr dalam ayat ini mencakup al Qur’an dan sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits ini berkenaan dengan menghidupkan sunnah dan mendorong manusia untuk melakukannya. Ini semua mengharuskan kita untuk berusaha sungguh-sungguh untuk turut melestarikan sunnah dan membersihkannya dari noda bid’ah.
Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah tiba suatu tahun melainkan banyak orang yang mengada-ada suatu bid’ah dan mematikan suatu sunnah sehingga bid’ah hidup sedangkan sunnah mati”.
Berikut ini adalah beberapa sunnah/ajaran Nabi yang sudah banyak dilupakan.
1. Bersiwak (gosok gigi) sebelum berwudhu
Seorang muslim dianjurkan untuk bersiwak sebelum berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
2. Selalu dalam kondisi berwudhu dan shalat sunah dua rakaat setelah berwudhu
3. Menjilati ujung jari setelah selesai makan
4. Makan dengan menggunakan tiga jari
5. Memakan makanan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibuang
Dalam Shahih Muslim terdapat bab yang berjudul, “Anjuran menjilati jari dan piring (setelah selesai makan, pent) serta memakan suapan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibersihkan dan dimakruhkan membersihkan tangan sebelum dijilati”.
Berdasarkan dua hadits ini jelaslah bahwa menjilati jari atau piring bukan hanya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam dua hadits di atas.
Anjuran untuk makan dengan tiga jari itu berlaku untuk makanan yang memungkinkan mennggunakan tiga jari semisal korma, roti dll. Adapun makanan yang tidak memungkinkan semisal bubur atau yang lainnya maka tidak berlaku anjuran untuk makan dengan tiga jari.
6. Duduk di tempat shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit
Syeikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Seorang perempuan yang shalat shubuh di rumah lalu duduk di tempat shalatnya untuk mengingat Allah atau membaca alQur’an sampai matahari meninggi kemudian shalat dua rakaat. Perempuan tadi akan mendapatkan pahala yang dijanjikan”
Untuk kebenarannya lilla hita'ala...
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)
Yang artinya, “Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An-Najm:3-4).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
“Ingatlah bahwa aku itu diberi al Qur’an dan yang semisalnya
(baca:hadits) bersamanya” (HR Ahmad no 17213 dari al Miqdam bin Ma’di
Yakriba, Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih”).Hasan bin ‘Athiyyah, seorang tabiin mengatakan, “Jibril itu turun untuk menemui Nabi dengan membawa sunnah sebagaimana dia turun dengan membawa al Qur’an”.
Allah juga menjamin untuk menjaga sunnah sebagaimana menjaga al Qur’an. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz dzikr dan kamilah yang menjaganya” (QS al Hijr:9). Yang dimaksud dengan adz dzikr dalam ayat ini mencakup al Qur’an dan sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً
حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ
غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
“Barang siapa yang merintis kebiasaan yang baik dalam Islam maka
untuknya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim no 2398 dari Jarir bin
Abdillah).Hadits ini berkenaan dengan menghidupkan sunnah dan mendorong manusia untuk melakukannya. Ini semua mengharuskan kita untuk berusaha sungguh-sungguh untuk turut melestarikan sunnah dan membersihkannya dari noda bid’ah.
Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah tiba suatu tahun melainkan banyak orang yang mengada-ada suatu bid’ah dan mematikan suatu sunnah sehingga bid’ah hidup sedangkan sunnah mati”.
Berikut ini adalah beberapa sunnah/ajaran Nabi yang sudah banyak dilupakan.
1. Bersiwak (gosok gigi) sebelum berwudhu
Seorang muslim dianjurkan untuk bersiwak sebelum berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ
“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya kuwajibkan mereka untuk
bersiwak setiap kali hendak berwudhu” (HR Ahmad no9930, menurut Syeikh
Su’aib al Arnauth sanadnya shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim).2. Selalu dalam kondisi berwudhu dan shalat sunah dua rakaat setelah berwudhu
عن عبد الله بن بريدة : عن أبيه أن رسول
الله صلى الله عليه و سلم سمع خشخشة أمامه فقال : ( من هذا ) ؟ قالوا :
بلال فأخبره وقال : ( بما سبقتني الى الجنة ) ؟ فقال : يارسول الله ما
أحدثت إلا توضأت ولا توضأت إلا رأيت أن لله علي ركعتين أصليهما قال صلى
الله عليه و سلم : ( بها )
Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara di depannya (di dalam
surga, pent), lalu bertanya, ‘Siapa ini?’. Para malaikat mengatakan,
‘Bilal’. Hal ini lantas diceritakan oleh Nabi kepada Bilal seraya
bertanya, “Dengan sebab apa engkau bisa mendahuluiku ke surga?”. Bilal
berkata, “Wahai rasulullah, tidaklah aku berhadats melainkan aku
berwudhu dan tidaklah aku berwudhu melainkan aku shalat sebanyak dua
rakaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Memang
karena itu” (HR Ibnu Hibban no 7087, Syeikh Syu’aib al Arnauth
mengatakan, ‘Sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Muslim’).3. Menjilati ujung jari setelah selesai makan
4. Makan dengan menggunakan tiga jari
5. Memakan makanan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibuang
Dalam Shahih Muslim terdapat bab yang berjudul, “Anjuran menjilati jari dan piring (setelah selesai makan, pent) serta memakan suapan yang jatuh setelah kotoran yang melekat dibersihkan dan dimakruhkan membersihkan tangan sebelum dijilati”.
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله
عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ
لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ ».
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk menjilati jari
jemari dan piring makan. Nabi bersabda, “Kalian tidak mengetahui di
bagian makanan yang mengandung barokah” (HR Muslim no 5420).
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ
فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا
وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ
حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ
الْبَرَكَةُ ».
Dari Jabir, Rasulullah bersabda, “Jika ada suapan makanan yang jatuh
maka hendaknya diambil, kotoran yang melekat dibuang lalu dimakan.
Jangan biarkan suapan makanan tersebut untuk setan. Janganlah kalian
bersihkan tangan kalian sesudah makan dengan sapu tangan hingga kalian
jilati terlebih dahulu jari jemari kalian karena kalian tidak tahu
secara pasti letak dari barokah makanan” (HR Muslim no 5421).Berdasarkan dua hadits ini jelaslah bahwa menjilati jari atau piring bukan hanya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam dua hadits di atas.
عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ
أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْكُلُ
بِثَلاَثِ أَصَابِعَ وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا.
Dari Ka’ab bin Malik, adalah menjadi kebiasaan rasulullah makan
dengan menggunakan tiga jari dan menjilati tangan sebelum diusap (dengan
sapu tangan, pent) (HR Muslim no 5417).Anjuran untuk makan dengan tiga jari itu berlaku untuk makanan yang memungkinkan mennggunakan tiga jari semisal korma, roti dll. Adapun makanan yang tidak memungkinkan semisal bubur atau yang lainnya maka tidak berlaku anjuran untuk makan dengan tiga jari.
6. Duduk di tempat shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ
النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ جَلَسَ فِى
مُصَلاَّهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسَنًا.
Dari Jabir bin Samurah, sesungguhnya di antara kebiasaan Nabi adalah
duduk di tempat shalatnya setelah shalat shubuh sampai matahari agak
meninggi (HR Muslim no 1558).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى
جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ
صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ
تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».
Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Siapa yang shalat shubuh
berjamaah kemudian dudukmengingat Allah hingga matahari terbit kemudian
shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji
dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” (HR Tirmidzi no 586,
menurut al Albani, ‘sanadnya hasan’).Syeikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Seorang perempuan yang shalat shubuh di rumah lalu duduk di tempat shalatnya untuk mengingat Allah atau membaca alQur’an sampai matahari meninggi kemudian shalat dua rakaat. Perempuan tadi akan mendapatkan pahala yang dijanjikan”
Untuk kebenarannya lilla hita'ala...
KIAT TERHINDAR DARI SIHIR
Sihir adalah sebuah kata yang kerap akrab di telinga kita. Siapa yang
tidak tahu tentang sihir, bahkan sekarang sihir telah menjadi suatu
hiburan, wallahul musta’an. Padahal jika kita mau menela’ah
lebih dalam apa itu sihir, pasti akan kita dapati bahaya yang sangat
besar, terutama bahaya terhadap aqidah seorang muslim.
Apa Itu Sihir?
Sihir secara bahasa digunakan untuk segala sesuatu hal yang sebabnya samar, lembut dan tidak jelas.Adapun secara istilah, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan caranya berbeda-beda, maka tidak ada definisi yang lengkap mencakup makna sihir. Di dalam kitab Adhwa-ul Bayan (4: 444) dijelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya sihir itu secara istilah tidak mungkin di definisikan dengan satu definisi yang lengkap mencakup semua jenis sihir dan mencegah yang bukan termasuk bagian sihir untuk masuk ke dalam bagian dari definisi tersebut, dikarenakan jenisnya yang banyak dan berbeda-beda yang masuk ke dalam istilah sihir. Tidak akan terwujud titik kesamaan di antara jenis sihir yang bisa mencakup semua macam jenis dan mencegah hal-hal yang termasuk sihir untuk masuk ke dalam definisi sihir. Dan ‘ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan istilah tersebut, dengan perbedaan yang sangat mencolok.”
Bahaya Sihir
Sesuatu yang dimiliki oleh setiap muslim di dunia ini lebih mahal dibanding apa pun adalah agamanya. Orang yang berakal pasti menjaga agamanya dan tidak akan pernah ridha dengan perbuatan yang dapat merusak atau melemahkan atau mengotori aqidahnya. Melakukan sihir dan pergi untuk meminta tukang sihir untuk melakukan sihir dapat membahayakan aqidah, bahkan meminta tukang sihir untuk melakukan sihir menjadi salah satu penyebab batalnya Islam seseorang.
Maka tukang sihir dan orang yang pergi ke tukang sihir untuk minta disihirkan, keduanya dihukumi sama. Dan sihir merupakan suatu keharaman dalam semua ajaran Rasul. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana pun ia datang.” (QS. Thaha: 69) Barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka ia telah Syirik.” (Diriwatkan An-Nasa-i). Disebutkan dalam Fathul Majid (231), “Ini adalah dalil tegas bahwa tukang sihir adalah Musyrik.”
Kiat Agar Terlindung dari Sihir
Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat melindungi dan menjaga kita dari pengaruh sihir
1. Menjaga Shalat Shubuh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mendirikan shalat shubuh, maka ia berada di dalam jaminan perlindungan Allah” (HR. Muslim). Barangsiapa yang menjaga shalat shubuhnya, maka ia akan mendapat perlindungan dari Allah atas gangguan setan-setan yang ingin melakukan sihir
2. Membaca Surah Al-Baqarah di Dalam Rumah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Bacalah Surah Al-Baqarah! Karena sesungguhnya mengambilnya (membacanya) adalah barakah dan meninggalkannya adalah penyesalan (kerugian), dan sihir tidak akan mampu menghadapinya” (HR. Muslim)
3. Menjaga Bacaan Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas) pada Waktu Shubuh dan Petang
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membacanya tiga kali pada waktu shubuh dan pada waktu petang, maka tidak ada yang bisa membahayakannya sesuatu apa pun.” (HR. Abu Dawud)
4. Membaca Ayat Kursi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi” (HR. Al-Bukhari)
5. Membaca Dua Ayat Terakhir dari Surah Al-Baqarah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah di malam hari, maka keduanya telah mencukupinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
6. Memakan Tujuh Buah Kurma ‘Ajwah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang memakan tujuh buah kurma ‘Ajwah di pagi hari, maka tidak ada yang bisa membahayakannya pada hari itu, baik racun dan sihir.” (Muttafaqun ‘alaih)
Sungguh begitu besar bahaya sihir bagi seorang muslim. Sihir tidak hanya membahayakan jiwa seseorang, namun dapat merusak aqidah seseorang. Sehingga bisa menjadi salah satu sebab batalnya keislaman seorang muslim. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari pengaruh buruk sihir dan para tukang sihir
Catatan: Banyak mengambil faedah dari kitab Ba’i-u Diinihi karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qosam
sumber: muslim.or.id
Apa Itu Sihir?
Sihir secara bahasa digunakan untuk segala sesuatu hal yang sebabnya samar, lembut dan tidak jelas.Adapun secara istilah, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan caranya berbeda-beda, maka tidak ada definisi yang lengkap mencakup makna sihir. Di dalam kitab Adhwa-ul Bayan (4: 444) dijelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya sihir itu secara istilah tidak mungkin di definisikan dengan satu definisi yang lengkap mencakup semua jenis sihir dan mencegah yang bukan termasuk bagian sihir untuk masuk ke dalam bagian dari definisi tersebut, dikarenakan jenisnya yang banyak dan berbeda-beda yang masuk ke dalam istilah sihir. Tidak akan terwujud titik kesamaan di antara jenis sihir yang bisa mencakup semua macam jenis dan mencegah hal-hal yang termasuk sihir untuk masuk ke dalam definisi sihir. Dan ‘ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan istilah tersebut, dengan perbedaan yang sangat mencolok.”
Bahaya Sihir
Sesuatu yang dimiliki oleh setiap muslim di dunia ini lebih mahal dibanding apa pun adalah agamanya. Orang yang berakal pasti menjaga agamanya dan tidak akan pernah ridha dengan perbuatan yang dapat merusak atau melemahkan atau mengotori aqidahnya. Melakukan sihir dan pergi untuk meminta tukang sihir untuk melakukan sihir dapat membahayakan aqidah, bahkan meminta tukang sihir untuk melakukan sihir menjadi salah satu penyebab batalnya Islam seseorang.
Maka tukang sihir dan orang yang pergi ke tukang sihir untuk minta disihirkan, keduanya dihukumi sama. Dan sihir merupakan suatu keharaman dalam semua ajaran Rasul. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana pun ia datang.” (QS. Thaha: 69) Barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka ia telah Syirik.” (Diriwatkan An-Nasa-i). Disebutkan dalam Fathul Majid (231), “Ini adalah dalil tegas bahwa tukang sihir adalah Musyrik.”
Kiat Agar Terlindung dari Sihir
Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat melindungi dan menjaga kita dari pengaruh sihir
1. Menjaga Shalat Shubuh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mendirikan shalat shubuh, maka ia berada di dalam jaminan perlindungan Allah” (HR. Muslim). Barangsiapa yang menjaga shalat shubuhnya, maka ia akan mendapat perlindungan dari Allah atas gangguan setan-setan yang ingin melakukan sihir
2. Membaca Surah Al-Baqarah di Dalam Rumah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Bacalah Surah Al-Baqarah! Karena sesungguhnya mengambilnya (membacanya) adalah barakah dan meninggalkannya adalah penyesalan (kerugian), dan sihir tidak akan mampu menghadapinya” (HR. Muslim)
3. Menjaga Bacaan Mu’awwidzatain (Surah Al-Falaq dan An-Nas) pada Waktu Shubuh dan Petang
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membacanya tiga kali pada waktu shubuh dan pada waktu petang, maka tidak ada yang bisa membahayakannya sesuatu apa pun.” (HR. Abu Dawud)
4. Membaca Ayat Kursi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi” (HR. Al-Bukhari)
5. Membaca Dua Ayat Terakhir dari Surah Al-Baqarah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah di malam hari, maka keduanya telah mencukupinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
6. Memakan Tujuh Buah Kurma ‘Ajwah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang memakan tujuh buah kurma ‘Ajwah di pagi hari, maka tidak ada yang bisa membahayakannya pada hari itu, baik racun dan sihir.” (Muttafaqun ‘alaih)
Sungguh begitu besar bahaya sihir bagi seorang muslim. Sihir tidak hanya membahayakan jiwa seseorang, namun dapat merusak aqidah seseorang. Sehingga bisa menjadi salah satu sebab batalnya keislaman seorang muslim. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari pengaruh buruk sihir dan para tukang sihir
Catatan: Banyak mengambil faedah dari kitab Ba’i-u Diinihi karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qosam
sumber: muslim.or.id
DO'A MEMOHON KESELAMATAN
Salah satu sifat kita adalah kurang bisa bersabar dalam berdoa. Kita
ingin setelah berdoa langsung dikabulkan. Padahal waktu pengabulan doa
itu urusan Allah. Ada yang cepat, ada yang lambat. Bahkan ada juga yang
ditangguhkan.
Lantas apakah salah jika kita meminta agar pengabulan doa dipercepat? Tidak salah selama kita memohon hal itu kepada Allah. Yang salah adalah ketika kita berburuk sangka kepada Allah karena tidak kunjung mengabulkan doa kita. Sebab tindakan tersebut sama juga dengan menyalahkan Allah. Sungguh tidak sepatutnya itu kita lakukan.
Doa di bawah ini merupakan wujud permohonan kita agar disegerakan keselamatan yang kita minta. Tetapi di samping itu, kita juga memohon agar dikaruniai kesabaran ketika tertimpa ujian.
Lantas apakah salah jika kita meminta agar pengabulan doa dipercepat? Tidak salah selama kita memohon hal itu kepada Allah. Yang salah adalah ketika kita berburuk sangka kepada Allah karena tidak kunjung mengabulkan doa kita. Sebab tindakan tersebut sama juga dengan menyalahkan Allah. Sungguh tidak sepatutnya itu kita lakukan.
Doa di bawah ini merupakan wujud permohonan kita agar disegerakan keselamatan yang kita minta. Tetapi di samping itu, kita juga memohon agar dikaruniai kesabaran ketika tertimpa ujian.
Bacaan Doa Mohon Penyegeraan Keselamatan
“Allaahumma innii as’aluka ta’jiila ‘aafiyatika wa sabran ‘alaa baliyyatika wa khuruujan minad dunyaa ilaa rahmatika”
Arti Doa Mohon Penyegeraan Keselamatan
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar disegerakan curahan keselamatan dari sisi-Mu kepadaku, diberikan kesabaran dalam menghadapi cobaan-Mu, dan diberikan jalan keluar dari dunia menuju kepada kasih sayang-Mu. (H.R. Hakim)”
Kamis, 10 November 2011
tiga tanda fenomenal dari tanda-tanda Kiamat
Sabtu, 23/05/2009 21:28 WIB | Arsip | Cetak
Ada tiga tanda fenomenal dari tanda-tanda Kiamat yang perlu diantisipasi dewasa ini oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dua di antara ketiga tanda itu masuk dalam kategori tanda-tanda besar Kiamat. Satu lagi kadang dimasukkan ke dalam tanda besar, namun ada pula yang menyebutnya sebagai tanda penghubung antara tanda- tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat.
Tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat ialah diutusnya Imam Mahdi. Imam Mahdi merupakan tanda Kiamat yang menghubungkan antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat karena datang pada saat dunia sudah menyaksikan munculnya seluruh tanda-tanda kecil Kiamat yang mendahului tanda-tanda besar Kiamat. Allah tidak akan mengizinkan tanda-tanda besar Kiamat datng sebelum berbagai tanda kecil Kiamat telah tuntas kemunculannya.
Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah dalam kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat berikut ini:
* Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق
* Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء
* Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف
* Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد
* Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود
* Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف
* Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور
* Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا
* Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن الخائن
* Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين
* Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم
* Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق
* Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم
* Makan riba أكل الربا
Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa laa quwwata illa billah....
Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat. Dan bila asumsi ini benar, berarti dalam waktu dekat kita semua sudah harus bersiap-siap untuk menyambut datangnya tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat, yaitu diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Hal ini menjadi selaras dengan isyarat yang diungkapakan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai dua pra-kondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi.
أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kese-wenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan adanya dua prakondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Kedua prakondisi tersebut ialah pertama, banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan kedua, terjadinya gempa-gempa. Subhaanallah. Jika kita amati kondisi dunia saat ini sudah sangat sarat dengan perselisihan antar-manusia, baik yang bersifat antar-pribadi maupun antar-kelompok. Demikian pula dengan fenomena gempa sudah sangat tinggi frekuensi berlangsungnya belakangan ini.
Berarti kedatangan Imam Mahdi merupakan tanda Akhir Zaman yang jelas-jelas harus kita antisipasi dalam waktu dekat ini. Dan jika sudah terjadi berarti kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk mematuhi perintah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi. Kita diperintahkan untuk segera berbai’at dan bergabung ke dalam barisannya sebab episode-episode berikutnya merupakan rangkaian perang yang dipimpin Imam Mahdi untuk menaklukkan negeri-negeri yang dipimpin oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ
“Ketika kalian melihatnya (Imam Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah)
Imam Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).Beliau akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Penguasa Tunggal dan Sejati langit dan bumi. Beliau akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimatthoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullahdari ujung paling timur hingga ujung paling barat.
Ghazawaat (perang-perang) tersebut akan dimulai dari jazirah Arab kemudian Persia (Iran) kemudian Ruum (Eropa dan Amerika) kemudian terakhir melawan pasukan Yahudi yang dipimpin langsung oleh puncak fitnah, yaitu Dajjal. Dan uniknya pasukan Imam Mahdi Insya Allah akan diizinkan Allah untuk senantiasa meraih kemenangan dalam berbagai perang tersebut.
تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ
“Kalian akan perangi jazirah Arab dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan menghadapi Persia dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Ruum dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Dajjal dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya.” (HR Muslim)
Lalu kapan Nabiyullah Isa ’alihis-salaam akan turun dari langit diantar oleh dua malaikat di kanan dan kirinya? Menurut hadits-hadits yang ada Nabi Isa putra Maryam ’alihis-salaam akan datang sesudah pasukan Imam Mahdi selesai memerangi pasukan Ruum menjelang menghadapi perang berikutnya melawan pasukan Dajjal. Pada saat itulah Nabi Isa ’alihis-salaam akan Allah taqdirkan turun ke muka bumi untuk digabungkan ke dalam pasukan Imam Mahdi dan membunuh Dajjal dengan izin Allah.
Begitu Imam Mahdi dan pasukannya mendengar kabar bahwa Dajjal telah hadir dan mulai merajalela menebar fitnah dan kekacauan di muka bumi, maka Imam Mahdi mengkonsolidasi pasukannya ke kota Damaskus. Lalu pada saat pasukan Imam Mahdi menjelang sholat Subuh di sebuah masjid yang berlokasi di sebelah timur kota Damaskus tiba-tiba turunlah Nabi Isa ’alihis-salaam diantar dua malaikat di menara putih masjid tersebut. Maka Imam Mahdi langsung mempersilahkan Nabi Isa ’alihis-salaam untuk mengimami sholat Subuh, namun ditolak olehnya dan malah Nabi Isa ’alihis-salaam menyuruh Imam Mahdi untuk menjadi imam sholat Subuh tersebut sedangkan Nabi Isa ’alihis-salaam makmum di belakangnya. Subhanallah.
" ينزل عيسى بن مريم ، فيقول أميرهم المهدي : تعال صل بنا ،
فيقول : لا إن بعضهم أمير بعض ، تكرمة الله لهذه الأمة " .
"Turunlah Isa putra Maryam ’alihis-salaam. Berkata pemimpin mereka Al-Mahdi: "Mari pimpin sholat kami." Berkata Isa ’alihis-salaam: "Tidak. Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi yang lainnya sebagai penghormatan Allah bagi Ummat ini." (Al Al-Bani dalam ”As-Salsalatu Ash-Shohihah”)
Saudaraku, marilah kita bersiap-siap mengantisipasi kedatangan tanda-tanda Akhir Zaman yang sangat fenomenal ini. Tanda-tanda yang akan merubah wajah dunia dari kondisi penuh kezaliman dewasa ini menuju keadilan di bawah naungan Syariat Allah dan kepemimpinan Imam Mahdi beserta Nabiyullah Isa ’alihis-salaam.
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam barisan pasukan Imam Mahdi yang akan memperoleh satu dari dua kebaikan: ’Isy Kariman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) au mut syahidan (atau Mati Syahid). Amin ya Rabb.
Senin, 21 Februari 2011
cara menghargai seorang istri
CARA MEMPERLAKUKAN ISTRI MENURUT ISLAM
Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.
Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah.
Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untuk melaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.
Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.
Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah :
Pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”
Kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga.
Ketiga, mengatur rumah tangga.
Keempat, mendidik anak-anak.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda,
“Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.”
Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak ada larangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.Dan kewajiban lain seorang istri kepada suaminya adalah berbuat baik kepada keluarga suami.
Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah
Pertama, membayar mahar dengan sempurna.
Kedua, memberi nafkah.
Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”
Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya.
Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Kelima, mempergauli istri dengan baik. Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)
Muasyarah bil ma’ruf
Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkandari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”
Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengancara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderung dengan istri-istriyang lain.”
Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulanyang baik dalam keluarga.”
Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.
Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajibanyang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.
Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumah tangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibenci dalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya.
Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apayang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”
Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi.
Kenapa?
Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya diatas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya.
Lalu datanglah salah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datang lagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)
Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatanyang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalahrumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadi hakim yang bisa diterima kedua belah pihak.
Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan.
Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama.
Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikanyang banyak dalam keluarga Anda. Amin.
Langganan:
Komentar (Atom)